Beberapa minggu belakangan ini temen2ku (para ladies) pada sibuk ngomongin dan mikirin jodoh. Mereka bingung kenapa belum dapat jodoh juga (secara umur juga udah melewati 25...oops..udah masuk warning time!! hihi). Keluarga juga pada sibuk mendesak anak2nya yg cantik2 itu untuk segera menikah (including my family also :D ). Mereka bukannya gak mau menikah, mau banget malah, tapi masalahnya mereka belum mendapatkan "the one" nya. Dan ada juga yang udah punya Caleg (alias Calon legal), tapi sang pria tsb belum juga kunjung melamar. Para gentleman nya ada yang punya byk alasan knp belum melamar, mulai dari alasan serius sampe alasan yang ga masuk akal, tapi ada juga yang masih blm punya (atau buat) alasan knp belum melamar ladies nya itu (lho??).
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal.
Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan. Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serba unggul).
Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini. Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya.
Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga. Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan? Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki.
Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun. Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286).
Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.
Jangan pernah lagi bertanya, " Mana jodohku?.."
Namun bertanyalah, ".. Sudah dewasakah aku?.."
(main source: komunitasmuslim.com)
3 comments:
Salam Ulfa...
aku udah baca blogspotmu.bagus bagus baguuss.to the point and islamically meluruskan pandangan akan "value" pernikahan. hmm...aku juga ketiban a lot of questions of marriage. dengan question word "kapan" hehe....selain jawaban ku yang selama ini saying that i dont have the "one" yet dan membelutkan kata kata gaya pelarian...dan berhasil memang....namun jawaban yang benar adalah seperti yang kamu tulis di blog itu....versimu mempertanyakan "sudah dewasakah" dan versi pribadiku mempertanyakan "sudah kah mampukah jadi suami based on islamic expectation/ standard". kedewasaan, kemampuan memimpin,tanggung jawab dan lain lain menuju tujuan "sakinah" atau apalah namanya....
wa alaikumsalam ,neng ulfa..
pertama gue mau besyukur ,krn sekarang gue tidak lagi disulitkan dengan pertanyaan2 yang selalu membayangi gue.Krn akhirnya gue telah menikah dengan jodoh gue.Amin. kedua,,gue lega ternyata masih ada wanita2 di zaman modern seperti sekarang ini yang masih memikirkan untuk hidup berumahtangga.Krn perkembangan zaman sdh merubah pola pikir wanita utk lebih mandiri dan lebih bebas dengan mengagungkan bendera emansipasi wanita,yang membuat wanita bisa merasa punya kuasa lebih tinggi drpd laki2,yang mana bila mereka menikah,itu tidak bisa mereka dapatkan.Ketiga, gue mau bilang,menikah itu lebih membuat kita bahagia,dan hidup lebih tenang.Untuk semua wanita modern,,jangan pernah lupakan kodratmu,sehebatnya diri kalian,ingat kalian tetap wanita yang selalu hidupmu didampingkan dengan laki2 yang hebat dan sempurna.
Kayaknya sama "Post" ini Dengan "diriku" saat ini... hik hik hik (menyedihkan)
Post a Comment