20 October 2008

Mula dan Muara Cinta

Darimana Cinta Bermula

Cinta itu anugerah, maka berbahagialah. Dunia tertawa menyapa bunga-bunga. Damai dan berbahagialah bila cinta telah bersemayam. Indah terasa hidup akan penuh asa. Sungguh sedihnya, jika hidup merana, tanpa cinta di dada, hidup begitu susah.
Bukan karena benda dan bukan pula harta, cinta sejati lahir menyapa pemiliknya. Cinta sarat makna dan kaya cita-cita. Ia tidak pernah mengeluh apalagi meminta-minta. Namun demikian, cinta tak pernah angkuh apalagi menghina. Ia sangat sederhana namun penuh wibawa.
Cinta itu bagaikan pohon. Semakin akarnya kuat ke dalam, semakin kokoh dipermukaan, tegar menghadapi angin badang, berdiri menjulang ke langit kemuliaan.
Tapi, jika pohon itu akarnya lemah, jangankan dicabut, disiram airpun akan tumbang. Pohon cinta jika terus dirawat dan disiram akan tumbuh subur dan rindang. Hijau, merekah, berbunga dan berbuah.
Namun, pohon cinta itu kering, layu, tak berbunga bahkan nyaris punah apabila pohon itu jarang tersentuh tangan-tangan kebaikan, tidak pernah disirami air al-Qur’an, tidak pernah dipupuk dengan keikhlasan dan kuatnya keimanan.

“Cinta sesaat bermula dari mata dan disikapi penuh olehnya, tanpa memohon pertimbangan hati. Jika baik dalam pandangan mata, baik pula adanya. Jika buruk menurut mata, buruk pula seutuhnya.”

Berbeda dengan rumusan cinta sejati. Begitu arif dan bijaksana. Tidak pernah selfish, selalu mengajak bermusyawarah, meminta pertimbangan yang terbaik, walaupun harus berjuang menyiasati hawa nafsunya.
Inilah rumusannya..!

“Cinta sejati bermula dari hati, medianya bisa lewat mata, lewat telinga, atau tanpa keduanya. Jika baik menurut mata atau telinga, belum tentu menurut hati. Juga sebaliknya, jika buruk menurut mata dan telinga, belum tentu menurut hati.”

Rasulullah SAW bersabda, “Bertanyalah kepada hatimu”. Hati adalah akar, tempat sesuatu dimulai. Hati adalah energi yang menggerakkan segala aktivitas kehidupan. Jika hati bersih, buah cinta pun akan berbunga surga. Namun, jika hati kotor, cinta pun akan membawa malapetaka.
Perhatikanlah firman Allah SWT, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Seseorang yang tidak memiliki cinta, ia tidak akan mampu menikmati indahnya hidup ini. Karena kehidupan dibangun dengan cinta, pondasinya adalah cinta, bangunannya juga cinta, tujuannya pun adalah cinta.



Hendak kemana cinta bermuara?

Mencintai dan dicintai adalah fitrah. Bahkan fitrah itu sendiri adalah cinta. Setiap tarikan nafas, mengandung kalori cinta. Cinta itu bervitamin yang akan menambah stamina tubuh dan jiwa. Terjadinya beberapa macam penyakit, terlebih hati, karena kurangnya unsur cinta.
Perhatikanlah, pohon-pohon yang layu atau jiwa-jiwa yang kering karena kurangnya siraman cinta.
Sebagaimana cinta berawal dari hati, maka ia pun akan senyawa dengan hati. Bahkan, cinta akan segaris lurus dengan keimanan.
Bercinta adalah sebuah seni dalam kehidupan. Level apa pun dalam hidup ini, akan sangat membutuhkan cinta. Sekeras apapun jiwa seseorang, pasti ada cinta yang terpendam dalam lubuk hatinya. Tanpa cinta, kehidupan tak pernah ada.
Cinta harus menjadi lapisan dan inti dari semua gerakan. Citna adalah ruh. Cinta adalah sungai hati dan perasaan yang akan bermuara di samudera keagungan bersama Allah, puncak tertinggi Mahacinta.

Inilah muara cinta,… “keimanan”. Iman yang berdasarkan cinta akan menembus sekat-sekat buruk kemanusiaan dan akan menyingkap tabir-tabir hikmah ketuhanan.


(Sumber: Tauhid Cinta, karya Abdul Muta’ali)

Wassalamu’alaikum

No comments: